

Melihat kinerja budidaya udang menurut Director World Aquaculture Society APAC, Denny Leonardo menjelaskan bahwa budidaya udang memiliki potensi ekspor sangat tinggi. Mengetahui permintaan udang di China sebesar 3-6% dan banyak sumber daya pangan beralih dari ternak ke ikan atau sumber daya laut untuk mengurangi emisi dan environmental foot print.
Selain itu, juga menjelaskan model usaha budidaya udang yang realistis. Apabila ingin berisiko rendah menggunakan metode budidaya konvensional, sedangkan untuk produktivitas tinggi menggunakan metode budidaya intensif dengan tantangan risiko tinggi. Perlu diketahui, teknologi yang paling krusial untuk usaha budidaya udang terutama metode budidaya intensif adalah aerasi.
Belajar dari negara Ekuador sebagai produsen udang terbesar, mereka memiliki manajemen budidaya yang baik. Kemudian diikuti dengan keterampilan manajemen risiko, production planning, assessment, tidak serakah, mengetahui kapabilitas, dan belajar dari data yang ada dan kondisi lingkungannya.
Udang Indonesia supaya bisa mencapai produksi seperti di Ekuador adalah butuhnya manajemen sumber daya manusia yang terlatih. Di tambak, keputusan budidaya bergantung pada aspek teknisnya. Hal ini sumber daya manusia perlu dilatih melalui kegiatan edukasi.